CERPEN : Anugerah dari Tuhan
HALLO! I'm back. Saya hanya mau membagikan karya lamaku yang telah dimodifikasi. Cerita ini sebenarnya terinspirasi oleh drama yang kubuat bersama sahabat-sahabatku. Oke.. langsung saja ya happy reading ^_^
Anugerah dari Tuhan
Pada suatu hari di sebuah daerah terpencil terdapat pedagang sate yang sedang merenungi nasibnya.
“Sate... sate… sate… Aduh sudah jam segini belum ada satu orang pun pembeli... nasib ya nasib,” ucap pedagang sate lesu.
Tiba-tiba sebuah rombongan bus berhenti tepat di depan pedagang itu berjualan, kemudian orang-orang tersebut banyak yang turun untuk membeli sate bapak itu.
“Permisi, Pak, saya mau membeli sate. Satu tusuk,” pinta sang pembeli pertama.
“Walah.. satu tusuk? Macam mana pulalah, tak bisa! Satu porsi baru boleh.”
“Hahaha, bercanda, Pak. Saya mau pesan empat porsi, dimakan di sini ya.”
“Nah, begitu dong, Bu. Tunggu sebentar ya.” Pedagang itu pun tersenyum semringah, sebelum akhirnya ia membakar beberapa tusuk sate yang dipegangnya itu ke tumpukan bara api di depannya.
Seorang pemuda gagah yang tampak seperti ingin membeli sate tiba-tiba muncul. “Pak, saya beli sate dua porsi, dibungkus ya,” ucap pembeli kedua.
Seorang pemuda gagah yang tampak seperti ingin membeli sate tiba-tiba muncul. “Pak, saya beli sate dua porsi, dibungkus ya,” ucap pembeli kedua.
Pedagang sate itu menyahut, “Iya, iya... ditunggu ya.”
“Pak, kalau saya beli satu porsi saja, dibungkus juga,” ucap pembeli ketiga, seorang pemudi cantik.
“Iya sebentar, ditunggu.”
Selang beberapa menit Ibu pembeli pertama tadi angkat bicara, “Pak, kok pesanan saya lama sekali, tidur apa? Saya sudah lapar lho.”
“Oh iya, ini, Bu satenya. Maaf ya saya lupa, tadi lumayan banyak yang beli,” jawab pedagang itu.
“Ya sudah saya bayar dulu aja. Semuanya berapa?”
“Empat puluh delapan ribu, Bu.”
“Baiklah, ini uangnya,” ucap Ibu itu sembari memberikan 10 lembar uang seratus ribuan.
“Lho, kok banyak sekali bu?” tanya pedagang sate bingung.
“Sudah Pak, terima saja. Anggap ini sebagai rezeki, saya ikhlas kok.”
“Alhamdulillah, terima kasih banyak, Bu, terima kasih.” Bapak penjual sate itu pun bersujud, ia juga tak henti-hentinya berterima kasih dan mengucap kata syukur.
“Iya, Pak, sama-sama. Kalau begitu saya lanjut makan dulu ya.”
“I-iya, Bu.. silakan. Alhamdulillah Ya Allah.”
Dengan perasaan masih tak bisa dipercayainya, pedagang sate itu telah menerima uang yang cukup besar jumlahnya dari seorang pembeli yang misterius. Meski demikian sang pedagang menganggap bahwa itu adalah anugerah dari Tuhan atas semua usaha dan kerja kerasnya selama ini.
~Tamat~
Terima kasih sudah berkunjung :) semoga hari-harimu menyenangkan.
Komentar
Posting Komentar