CERPEN : Gara-Gara Hamster
Selamat Sore! Wah setelah sekian lama tidak muncul, akhirnya saya mau memposting karya saya nih. Ini fix! Asli buatanku sendiri. ^^
Mari baca sebuah cerpen yang sebenarnya sudah lama saya buat ini. Cek it out~~
Gara-Gara Hamster
Siang itu terasa panas. Beruntung sudah tiba waktunya pulang sekolah. Safita, Tian dan Vivi sampai keringetan saking panasnya. Oh iya, mereka adalah sahabat karib yang kebetulan satu SMA, satu kelas pula.
“Panasnya minta ampun,” ucap Tian sembari kipas-kipas.
“Iya nih, kalo panas gini mah enaknya berenang kali ya, tapi ini tanggal tua mana punya duit kita,” ucap Vivi sedih. (padahal anak sekolah mah ngga ada istilah tanggal muda tanggal tua, toh tiap hari sama saja).
“Cup cup Vivi, daripada cemberut gitu mending aku traktir kalian beli minuman. Gimana?” tawar Safita. Ia memang berbakat kalo urusan menghibur para sahabatnya. Dan tanpa pikir panjang mereka pun langsung pergi membeli minuman.
Setelah membeli minuman, mereka berjalan ke sebuah tempat di mana mereka sering berkumpul. Tempat itu di dekat rumah Vivi. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di sana. Dari mulai pagi hingga pagi lagi. (kalau gitu kapan sekolahnya?) *abaikan*
“Vi, liat deh si Wenda update status baru nih di facebook,” ujar Safita sembari menunjukkan handphonenya.
“Wenda yang mana?” tanya Vivi bingung.
“Itu lho.. tetangga sebelah kita di sekolah, masa lupa.”
“Oh.. yang nama facebooknya 'Weentdha Yanks Cellalue DiMengertie' itu ya, emang dia update apaan?”
“Nah iya itu, dia update gini 'Mati yang miris adalah mati ketika masih jomblo',” ucap Safita sembari menahan tawa.
“Hahaha. Si Wenda ketahuan banget jonesnya ya.” Tawa Vivi dan Safita pecah. Tetapi setelah itu Safita melihat ke arah Tian yang hanya diam sedari tadi.
“Eh, Tian kamu kenapa? Dari tadi melamun aja, nanti kesamber bledeg gimana.” Safita bertanya ke Tian khawatir.
“Aku lagi bingung,” jawab Tian lesu.
“Bingung kenapa, Tian? Cerita aja ke kita,” sahut Vivi.
Saat itu Tian hanya melamun dikarenakan ia teringat hewan peliharaannya di rumah. Hewan itu namanya Hyuki. Hewan yang amat sangat ia sayangi melebihi apa pun. Hyuki itu hamster. Sejak Tian akan berangkat ke sekolah pagi tadi, dia terlihat aneh bin ajaib. Hyuki terlihat uring-uringan di kandang. Biasanya dia suka lari-larian di kandangnya yang terdapat mainan berputar-putar mirip biang lala itu, tetapi akhir-akhir ini Hyuki hanya terkapar lemah tak berdaya.
“Oh… jadi gara-gara Hyuki kamu jadi bengong gitu,” ucap Vivi dan Safita serentak setelah mendengarkan cerita tentang Hyuki dari Tian.
“Hmm.” Tian hanya menjawab dengan berdehem.
“Mungkin dia belum makan,” ujar Safita.
“Atau... dia galau gara-gara pengin iPhone,” celetuk Vivi dan membuat Safita tertawa.
Macam-macam tebakan keluar dari mulut Safita dan Vivi. Namun, Tian tidak menanggapi perkataan kedua sahabatnya itu. Ia diam terus-menerus dan malah meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun.
~oOo~
Keesokan harinya, Tian tidak berangkat sekolah dan membuat para sahabatnya begitu cemas. Biasanya mereka bertiga tidak pernah miss komunikasi. Tetapi kali ini Tian hilang kontak dengan sahabatnya.
Bel pun berbunyi menandakan bahwa sekolah telah usai. Safita dan Vivi langsung bergegas menuju ke rumah Tian.
“Assalamu’alaikum… Tian….” Safita dan Vivi teriak kompak.
“Wa’alaikumsallam.. Eh, Safita, Vivi.. mari masuk,” ucap Ibu Tian.
“Iya Bu, makasih.”
“Nak, kalian kan teman dekatnya, coba kalian bujuk Tian agar mau makan, sudah seharian ini dia tidak makan,” kata Ibu Tian.
“Iya Bu, nanti kita usahain,” ucap Safita.
Mereka pun menuju ke kamar Tian. Terlihat Tian sedang menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong.
“Tian,” ucap Vivi sembari memegang pundaknya.
Tanpa disangka Tian membuang tangan Vivi yang berada di pundaknya itu. Dengan cepat Safita yang melihatnya pun langsung menghampiri Tian.
“Tian! kamu ngga perlu ngelakuin semua ini. Kamu bisa sakit karena ngga makan, kamu juga bakal ketinggalan sekolah kalau kamu terus-terusan kayak gini,” gertak Safita panjang lebar dengan rasa kepeduliannya.
Sejenak suasana menjadi hening.
“Keluar!” teriak Tian dengan nada serak.
“Sebenarnya salah kita apa sih? Kenapa kamu jadi kayak gini? Kasih tau kita, Tian, kita itu udah sahabatan lebih dari dua tahun,” ucap Vivi penuh emosi.
“Kamu ngga tahu aku kenapa? Ngakunya kalian sahabat, tapi kalian ngga tahu aku kenapa? Gara-gara aku main sama kalian sepulang sekolah Hyuki meninggal, coba kalo aku langsung pulang waktu itu pasti aku bisa nyelamatin nyawanya,” ucap Tian sinis.
Usaha Safita dan Vivi pada hari itu gagal. Mereka benar-benar merasa bersalah karena tak mengetahui sebelumnya kalau hewan peliharaan Tian mati. Namun, keesokan harinya Safita dan Vivi tidak menyerah begitu saja, mereka masih semangat untuk menghibur sahabatnya itu.
Sudah satu minggu Tian tetap murung di kamar dan tidak masuk sekolah. Hanya Safita dan Vivi lah yang dengan setia tetap menemani di sisi Tian. Mereka selalu mengunjunginya tanpa terlewat barang sehari pun. Karena mereka berdua amat mengkhawatirkan keadaan Tian.
“Fit, Vi,” ucap Tian tiba-tiba. Akhirnya ia angkat bicara.
“Eh, ada apa Tian?” jawab Safita dan Vivi menghampirinya dengan tersenyum.
“Kalian tahu keadaan aku sekarang, 'kan? Kenapa kalian mau terlibat dalam kesulitan aku?” tanya Tian menahan tangis.
“Ingat, Tian. Sahabat sejati adalah orang yang akan tetap berada di sisinya saat dia merasa kesulitan,” jawab Safita.
“Dan menangislah jika kamu ingin menangis, karena kalau kamu menahan tangis, hatimu hanya akan bertambah sakit,” ucap Vivi menepuk pundak Tian.
Mereka bertiga pun berpelukan dengan dibanjiri air mata. Kini Tian telah menyadari kesalahannya, bahwa tindakannya itu berlebihan. Sudah menjadi takdir kalau hamster kesayangannya itu mati. Dan ia seharusnya tidak mengorbankan persahabatannya yang kental itu menjadi hancur.
Semuanya kembali karena waktu, yang terus berjalan. Akhirnya persahabatan mereka pun akur seperti sedia kala.
~END~
Terima kasih yang sudah berkunjung ke blog saya dan membaca postingan ini. :)
Komentar
Posting Komentar